Like us

Perlawanan Stigma Sosial Terhadap LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender)

PERLAWANAN STIGMA SOSIAL TERHADAP LESBIAN GAY BISEKSUAL DAN TRANSGENDER
THE OPPOSITION OF SOCIAL STIGMA IN LESBIAN GAY BISEXUAL AND TRANSGENDER
DICKY GUNAWAN
15102054
E-mail: dickygunawan205@gmail.com/no. handphone: 0895-3424-93757
UNIVERSITAS TRILOGI



A.     Pendahuluan.
Setiap hari kita mendengar kata stigma. Sebenarnya apakah stigma sosial itu? Stigma sosial adalah pandangan, prasangka, penilaian yang cenderung negatif yang ditujukan kepada seseorang atau sekelompok dikarenakan ada sesuatu hal yang berbeda dari biasanya dalam diri mereka. Mereka yang merasa distigma akan merasa terbuang dan secara tidak langsung dicap sebagai “pendosa.” Stigma sendiri muncul karena adanya norma-norma agama yang menjadi tolak ukur, apakah seseorang itu pantas mendapat stigma atau tidak. Karena untuk takaran stigma sendiri, seseorang itu “harus” berdosa atau tidak. Jika dinilai berdosa, maka stigma layak untuk disandangkan.
Selain itu, masalah moralitas juga menjadi bagian dari munculnya stigma. Tatkala ada orang-orang yang masih yakin bahwa yang paling bermoral adalah yang paling benar, apa kabarnya orang-orang yang nasibnya tidak beruntung dan keadaan yang menuntutnya untuk melepas atribut moral demi sesuap nasi, demi menghidupi keluarganya, demi mendapatkan pendidikan yang layak, dan demi hal-hal yang lainnya.
Tindakan perilaku menyimpang sesungguhnya tidak ada. Setiap tindakan sebenarnya bersifat netral dan relative. Artinya, makna tindakan itu relatif tergantung pada sudut pandang orang yang menilainya. Sebuah tindakan disebut perilaku menyimpang karena orang lain/masyarakat memaknai dan menamainya sebagai perilaku menyimpang. Jika orang/masyarakat tidak menyebut sebuah tindakan sebagai perilaku menyimpang, maka perilaku menyimpang itu tidak ada. Penyebutan sebuah tindakan parilaku menyimpang sangat bergantung pada proses deteksi, definisi, dan tanggapan  seseorang terhadap sebuah tindakan.
Perilaku menyimpang terjadi karena adanya stigma. Adanya stigma akan membuat seseorang atau sebuah kelompok negatif dan diabaikan, sehingga mereka disisihkan secara sosial. Ada kalanya masyarakat secara formal melakukan stigmatisasi melalui tata cara penghinaan. Stigmatisasi ini menjadi orang sakit secara mental (mental illness). Akibat selanjutnya, mereka terus menerus melakukan perilaku menyimpang.
Banyak sekali masyarakat beranggapan bahwa Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) adalah kaum yang menyimpang, kaum berdosa, dan bahkan ada negara yang melarang adanya LGBT. Sebenarnya apa itu LGBT ? LGBT adalah akronim dari Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender. Lesbian adalah seseorang perempuan yang tertarik dengan perempuan lain; Gay adalah seorang pria yang tertarik dengan pria lain atau sering dipakai untuk menggambarkan homoseksual; Biseksual adalah orang tertarik baik kepada pria dan wanita; dan Transgender adalah orang yang identitas gendernya bukan laki-laki dan perempuan atau berbeda dengan yang biasa ditulis dokter di sertifikat. Istilah tersebut digunakan untuk menggantikan frasa komunitas gay karena istilah tersebut sudah mewakili kelompok-kelompok yang telah disebutkan.
Mengapa LGBT tidak dapat diterima dalam lingkup masyarakat Indonesia? karena menurut mereka, perilaku LGBT tidak diperbolehkan, dan adanya prasangka bahwa suatu hari nanti LGBT akan membuat anak Indonesia menjadi seperti para LGBT, dan banyaknya asumsi dari masyarakat bahwa LGBT itu buruk, manusia diciptakan berpasang-pasangan oleh Tuhan, sudah seharusnya kita sebagai manusia mengikuti aturan tersebut dan tidak bertindak melawan kodrat; dan bencana alam semakin hari semakin banyak terjadi dan merupakan tanda-tanda berakhirnya zaman, seiring dengan semakin banyaknya orang yang menyatakan dirinya bagian dari LGBT, serta pendapat-pendapat lainnya. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa pihak-pihak yang tergolong LGBT sebenarnya bukanlah pelaku penyimpangan, mereka hanyalah manusia biasa yang berhak hidup dengan damai dan tenteram di negaranya sendiri. Mereka adalah orang-orang yang memiliki hati, memiliki perasaan, serta pikiran yang sama dengan para non LGBT.. Namun perbedaannya hanya terletak pada orang yang mereka sukai. Untuk itu, menerapkan stigma terhadap LGBT adalah sangat tidak bijaksana karena ada begitu banyak sekali alasan mengapa mereka memiliki orientasi yang berbeda dari kebanyakan orang.
Banyak penelitian yang menyanggah bahwa LGBT, atau lebih spesifiknya homoseksual, adalah abnormal. Dua diantaranya adalah pertama, teori Spectrum oleh McKinsey. McKinsey menjelaskan bahwa spectrum orientasi seksual ada 6 skala. Skala 0 menandakan seseorang dengan orientasi ekstrim heteroseksual dan skala 6 untuk ekstrim homoseksual. Namun tidak ada orang yang ekstrim homoseksual atau ekstrim heteroseksual, karena pada dasarnya manusia memiliki sedikit kecenderungan untuk tertarik pada lawan atau sesama jenisnya.
Yang kedua yaitu Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa III (PPDGJ III). Dalam PPDGJ III, Kementerian Kesehatan RI telah menghapuskan homoseksualitas sebagai gangguan jiwa,  karena homoseksual tidak menunjukkan gejala apapun terkait dengan gangguan psikologis maupun mental. Lalu juga dalam kitab para psikolog dunia yaitu Diagnostic Statistics Manual ke-5 (DSM V) telah mencabutkan homoseksualitas sebagai penyakit.
B.     Pembahasan.
Setelah negeri paman Sam, atau Amerika Serikat, melegalkan pernikahan sesama jenis, warga Indonesia berduyun-duyun membahas homoseksualitas. Mulai dari warung kopi sampai level akademisi. Stigma-stigma pun turut berdatangan disela-sela percakapan mereka. Diantaranya adalah pernyataan bahwa lesbian, gay, biseksual, dan transgender merupakan penyimpangan seksual. Menurut para ahli psikologi dalam Pedoman Penggolongan Diagnosis Gannguan Jiwa III atau disingkat PPDGJ III, pada poin F66 “Gangguan Psikologis dan Perilaku yang Berhubungan dengan Perkembangan dan Orientasi Seksual”, dibawahnya jelas tertulis orientasi seksual sendiri jangan dianggap sebagai suatu gangguan. Artinya dalam PPDGJ III itu sendiri mengatakan bahwa Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender bukanlah suatu penyimpangan atau gangguan seksual.
Pernyataan lain adalah perilaku LGBT dapat menular kepada orang lain. LGBT bukanlah penyakit yang disebabkan oleh virus maupun bakteri sehingga dapat menular. LGBT merupakan persoalan preferensi seksual. Jika seseorang percaya bahwa dia bukanlah LGBT, maka dia tidak akan menjadi LGBT hanya dengan bergaul dengan mereka. Pernyataan berikutnya mengungkapkan bahwa para LGBT hanya mementingkan seks, atau persetubuhan. Semua orang pasti mementingkan seks, karena seks adalah kebutuhan alami yang dimiliki setiap manusia. Hanya saja, ada sebagian dari mereka yang akan melampiaskan kebutuhan seks nya hanya pada orang yang benar-benar dicintainya atau dengan kata lain pasangan sejatinya. Dan juga ada yang melampiaskannya dengan cara melakukan pemaksaan kepada orang lain, seperti pemerkosaan, pelecehan seksual, dan sebagainya. Sama seperti LGBT, mereka ada yang melampiaskan kebutuhan seks nya dengan cara yang baik dan ada yang buruk. Para LGBT juga tidak selalu memikirkan hal-hal yang berbau seks. Banyak dari mereka yang lebih mementingkan hal-hal lain, seperti prestasi, pekerjaan, persahabatan, membanggakan orang tua, bakti sosial, dan hal-hal positif lainnya.
Pernyatan-pernyataan diatas itulah yang membuat para LGBT semakin jelek dimata orang-orang lain atau masyarakat sekitar. Jika dibiarkan, pernyataan-pernyataan tersebut akan selalu menetap dan semakin menjadi-jadi bahwa LGBT benar-benar buruk. Padahal kenyataannya, LGBT juga sama seperti orang-orang lain, memiliki sisi positif dan negatifnya. Dengan demikian, pentingnya edukasi mengenai bahaya stigma harus diberikan sedini mungkin. Ada beberapa cara bagi kita untuk melawan stigma yang sudah banyak tersebar mengenai LGBT, diantaranya adalah:
1.      Pahami dari sisi psikologi.
Memahami para LGBT dari sisi psikologi merupakan hal yang paling mendasar, karena mereka juga manusia, jadi memahami sesuatu dari aspek paling dasar manusia merupakan langkah awal yang paling tepat untuk mengetahui penyebab seseorang menjadi LGBT.
Memahami dari sisi psikologi juga bisa membantu kita menjelaskan apakah LGBT benar-benar buruk bagi mereka dan diri kita, atau tidak. Sehingga kita bisa lebih merasa nyaman dan tidak semena-mena terhadap para LGBT.
2.      Pahami dari sisi kesehatan
Selain psikologi, memahami para LGBT dari sisi kesehatan juga tidak kalah pentingnya. Memahami disini maksudnya adalah menelaah apakah LGBT berbahaya bagi kesehatan dan fisik kita. Salah satu contoh stigma yang paling kuat dari sisi kesehatan para homoseksual (lesbian dan gay) adalah mereka merupakan penyebab utama dari penyebaran HIV. Itu salah besar. HIV/AIDS bukanlah penyakit kelompok homoseksual. Siapapun bisa jadi penyebab utama penyebaran HIV, termasuk heteroseksual (laki-laki dengan perempuan). HIV dapat dengan mudah ditularkan melalui “air liur” saat berhubungan seks. Heteroseksual maupun homoseksual pasti melakukan ini saat berhubungan badan. HIV juga dapat ditularkan melalui lingkungan sekitar (contohnya besi yang berkarat). Jadi tidak ada alasan khusus mengapa homoseksual merupakan sumber penyakit HIV.
3.      Hargai perbedaan.

Manusia terdiri dari 98% persamaan, dan 2% perbedaan. Kita hanya dibedakan oleh 2% itu. Namun, karena 2% perbedaan itulah yang bisa menyebabkan kita terpecah belah.
Menghargai perbedaan adalah cara yang paling dibutuhkan ketika kita ingin menjadi manusia yang lebih toleran. Cara termudah adalah dengan memahami bahwa kita harus memahami sudut pandang yang berbeda-beda dari setiap orang. Pasti berbeda pemikiran seorang Gay, dan pemikiran seorang transgender misalnya. Atau Gay dari agama islam dengan Gay dari agama protestan misalnya, pasti memiliki perbedaan cara pandang.

4.      Perbanyak pikiran-pikiran positif.

Ibarat setitik hitam di kertas putih, kebanyakan orang pasti hanya melihat titik hitam itu, padahal warna putihnya jauh lebih banyak. Demikian pula dengan para LGBT. Dari beberapa hal buruk yang mereka lakukan, kita harus membuka mata hati kita, mengakui bahwa mereka juga banyak melakukan hal-hal yang positif, bahkan jauh lebih banyak dari keburukannya. Karena pada kenyataannya memang seperti itu. Anggapan bahwa para LGBT hanya sedikit memiliki hal positif atau tidak samasekali, benar-benar salah. Para LGBT juga banyak yang mengabdikan diri mereka pada masyarakat, suka membantu sesama, membangun rumah tangga yang baik bersama pasangan sejenis mereka, mencetak prestasi yang gemilang, dan lain-lain.  

C.     Simpulan
Menghindari stigma, khususnya yang paling banyak terjadi pada para LGBT, tidak terlalu sulit untuk diaplikasikan kedalam hidup kita, asalkan kita memiliki niat dan bersungguh-sungguh. Kehati-hatian dalam menilai hidup atau kepribadian seseorang merupakan aspek krusial yang harus kita tanamkan dalam diri kita. Karena ketika seseorang berbuat sesuatu, pasti ada alasan dibelakangnya. Alasan itulah yang benar-benar harus kita pahami sehingga kita dapat memaklumi maupun membantunya untuk tidak melakukan hal yang demikian.



2 komentar: